Fenomena ‘Panic Buying’ Sebabkan Antri Pertalite Mengular, Warga : Tolonglah Diatur, Kalian Sudah Digaji 

Mitigasi kuota minus jadi sorotan

Berita, DAERAH125 Dilihat

Pangkalpinang truthnews.id – Fenomena Panic Buying sebagai ekses langsung dari berpindahnya konsumen pertamax -yang harganya melambung tinggi- ke Pertalite, dinilai sebagian warga jadi penyebab mengularnya antrian di beberapa SPBU. Baik di Kotamadya Pangkalpinang ataupun di kabupaten Bangka, Senin 13 Juli 2026.

“Sudah hampir dua jam saya ngantri bbm pertalite, selain antrian panjang, saya khawatir begitu sampai di giliran saya mengisi bahan bakar tetiba habis dan harus refill ulang. Tolonglah pada yang berwenang atur dengan baik, bukankah kalian sudah digaji layak oleh negara?” keluh Wahyudi warga Tiangtara yang sedang melancong ke pantai dan harus mengantri di SPBU kawasan Selindung Pangkalpinang.

Problemnya bukan hanya dirasakan oleh Wahyudi saja. Warga Sungailiat Bangka pun turut mengalami hal serupa, yakni kesulitan mencari SPBU yang menyediakan bahan bakar bersubsidi jenis pertalite. Diketahui pada sepanjang Senin siang hingga jelang sore SPBU Pagarawan dan Kenanga dijejali kendaraan yang mengantri.

Sumber photo : jok bangka on fb

“Ngantri 2 Jam Lebih. Pas La sampai giliran Ngisi Pertalite, jawabannya “habis”. Hidup Macam Apa ini,” tulis akun FB Jok Bangka.

Informasi terbuka yang berhasil disusun awak media mengatakan, bahwa akibat cuaca ekstrem yang melanda Kepulauan Bangka Belitung, disinyalir menyebabkan pasokan bbm jenis pertalite ke dua pulau besar di timur Sumatra terganggu. Kendati demikian, permasalahan ini diyakini akan tuntas pada Selasa ini.

Berdasarkan penelusuran media, harga bahan bakar non subsidi Pertamax telah mampu menerbitkan pseudo creative bagi sebagian konsumen. Caranya beragam, mulai merekayasa plat nomor kendaraan -yang wajib mengisi bbm non subsidi- ketika masuk area SPBU, hingga menyiasati dengan mengisi penuh tangki kendaraan non dinas untuk kemudian dipindahkan ke kendaraan berplat merah.

Namun ditengarai semuanya bermuara pada tidak masuk akalnya harga beli Pertamax. Dimana saat harga naik, carut marut situasi global jadi alasan pembenaran pemerintah. Namun ketika harga minyak dunia turun, tidak juga mampu menerbitkan peraturan yang sama, yakni turunnya harga. Hal yang sedikit mustahil sejak republik ini berdiri.

“Yang kami lihat, sebagian warga konsumen pertamax perlahan eksodus ke antrian warga konsumen pertalite. Ini yang menjadi salah satu faktor memanjangnya antrian di SPBU, belum lagi diperparah dengan sistem distribusi yang mengandalkan jalur laut, seperti sama-sama diketahui bergantung pada cuaca. Jika cuaca ekstrem seperti angin tenggara yang kencang seperti sekarang otomatis pasokan ikut bermasalah, idealnya ada semacam kilang penampungan yang berfungsi sebagai cadangan ketika pasokan terganggu atau mengkalkulasi ulang total kuota pasokan dengan menambahkan faktor force majeure sebagai mitigasi ketika cuaca ekstrem,” terang Bujang warga Bukit Baru Pangkalpinang. (LH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *